Sebelum
membahas tentang perayaan Natal dan segala konfrontasi yang menyertainya,
terlebih dahulu perlu saya jelaskan latar belakang kesejarahan Yesus itu
sendiri. Bahwa Yesus memang lahir dan hidup dikalangan bangsa Yahudi. Oleh
karena itu, untuk bisa memahami sosok Yesus, harus paham terlebih dahulu
bangsa Yahudi.
Bangsa Yahudi
berkeyakinan bahwa mereka adalah “bangsa pilihan” Tuhan.
Tuhan
menciptakan alam semesta beserta isinya untuk kepentingan dan kesejahteraan
mereka. Dan mereka merasa sebagai subjek, sedangkan bangsa lain cukup
sebagai pelengkap penderita. Lebih lanjut hanya diri mereka yang dianggap
”manusia, sedangkan bangsa lain hanyalah pembantu, budak, bahkan anjing.
Keyakinan seperti itulah yang membuat mereka lebih dari bangsa lain,
sombong, pongah, keras kepala bahkan kejam.
Pernyataan-pernyataan seperti tersebut diatas bukan sebuah dramatisasi
belaka, melainkan bersumber dari Bibel sendiri, diantaranya:
”Kamu akan menjadi bagiKu kerajaan iman dan bangsa yang kudus. Inilah
semunya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.”
(Keluaran 19:6).
’Engkau akan diberkati lebih daropada segala bangsa”
(Ulangan 7:14).
”Engkau harus melenyapkan segala bangsa yang diserahkan kepadamu oleh Tuhan,
Allahmu: janganlah engkau merasa sayang kepada mereka....”
(Ulangan 7:16).
”Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro Fenesia. Ia memohon kepada Yesus
untuk mengusir setan itu dan anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya :
”Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang
disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing. ”Tetapi
perempuan itu menjawab: ”Benar Tuhan. Tetapi anjing yang dibawah meja juga
makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak. ”Maka kata Yesus kepada
perempuan itu: ” Karena kata-katamu itu pergilah sekarang sebab setan itu
sudah keluar dari anakmu.”
(Markus 7:26-29).
Pernyataan-pernyataan Bibel tersebut di atas menjelaskan betapa bangsa
Yahudi menganggap diri mereka istimewa, yaitu ”bangsa pilihan Tuhan”. Oleh
karena itu mereka boleh berbuat apa saja terhadap bangsa lain, termasuk
membantai (melenyapkan). Dan semua itu dilakukan atas nama Tuhan.
Namun adakah
suatu bangsa yang rela terus menerus ditindas dijajah ataupun diperbudak?.
Demikian pula dengan bangsa Falestin, penduduk asli negeri itu, yang setelah
melalui perjuangan berat akhirnya bangsa Falestin menang. Kemenangan bangsa
Falestin tersebut membuat keadaan menjadi terbalik. Bangsa Yahudi- sang
penindas- kini dalam bayang-bayang tertindas. Maka mereka memohon agar
Yahwe (Tuhan Israel) segera mengutus seorang Al-Masih (Juru Selamat) agar
mereka jaya dan berkuasa lagi.
Sederetan
Al-Masih
Dari
Bibel, khususnya dalam perjanjian lama, akan kita dapatkan bahwa Al-Masih
itu bukan hanya Yesus, mereka natara lain :
1.
Saul Al-Masih
Saul yang
berhasil mengalahkan Filistin diangkat sebagai Al-Masih:
”Bukankan Tuhan telah mengurapi engkau menjadi Raja atas umatnya Israel?
Engkau akan memegang Tampuk Pemerintahan atas umat Tuhan, dan engkau akan
menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh disekitarnya. Inilah tandanya
bagimu, bahwa Tuhan telah mengurapi engkau menjadi Raja atas miliknya
sendiri
(I
Samuel 10:1)
2.
Harun Al-Masih
Setelah Saul
menjadi Al-Masih maka Harun (saudara Musa) juga diangkat sebagai Al-Masih.
”Kemudian
ditungkannya sedikit dari minyak urapan itu ke atas kepala Harun dan di
urapinyalah dia untuk menguduskannya”.
(Imamat
8:12)
3.
Elisa Al-Masih
Kehadiran
seorang Al-Masih untuk masa ini ternyata tidak cukup, maka setelah Harun
menjadi Al-Masih, Elisa pun diangkat menjadi Al-Masih.
”Juga Yehu, cucu Nimzi, haruslah kau urapi menjadi Raja atau Israel, dan
Elisa bin Safat dari Abel Mahola, harus kau urapi menjadi Nabi mengggantikan
engkau”
(I
Raja-Raja 19;16)
4.
Daud Al-Masih
Setelah Saul
meninggal dunia maka sesepuh suku-suku Israel menggangkat Daud sebagai
Al-Masih.
”Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap Raja, lalu Raja Daud
mengadakan perjanjian dengan mereka di Hebron, di hadapan Tuhan; kemudian
mereka mengurapi Daud menjadi Raja atas Israel”
(II
Samuel 5:3)
5.
Salomo Al-Masih
Setelah Daud
meninggal dunia, maka Salomo putra Daud diangkat sebagai tercantum dalam I
Raja-Raja 1:39
”Imam Zadok telah membawa tanduk berisi minyak dari dalam kemah, lalu
diurapinya Salomo. Kemudian sangkakala ditiup, dan seluruh rakyat berseru”
Hidup Raja Salomo”.
6.
Koresy Al-Masih
Raja Syrus
penyembah berhala ini diangkat sebagai Al-Masih setelah meninggalnya Salomo.
”Beginilah firman Tuhan : Inilah firmanku kepada orang yang kuurapi, kepada
Koresy yang tangan kananya kupegang supaya aku menundukkan bangsa-bangsa di
depannya dan melucuti Raja-Raja, supaya aku membuka pintu-pintu di depannya
dan supaya pintu gerbang tidak tinggal tertutup.”
(Yesaya 45:1)
Ayat ini
dialamatkan Raja Syrus yang pagan, untuk memenuhi kerinduan akan datangnya
penyelamat, walaupun pada kenyataannya ayat tersebut adalah nubuat dari nabi
Yesaya akan datangnya seorang Koresy (Quraisy) sebagai nabi akhir yaitu Nabi
Muhammad SAW. Amatlah mustahil jika Tuhan menyayangi seorang kafir untuk
diurapi. Apabila ternyata bahwa belum lama bangsa Yahudi dipimpin oleh
Al-Masih yang kafir, situasi keamanan dan politik berubah kembali dengan
datangnya serbuan pasukan Romawi. Maka kembali lagi seperti pada peristiwa
sebelumnya, yakni ketika bangsa Israel menangis, meraung dan memohon kepada
Yahwe untuk diberi Al-Masih atau seorang juru selamat untuk membebaskan
mereka dari cengkraman bangsa Romawi. Maka mereka berangan-angan dan
menyusun kriteria Al-Masih.
Orang-orang Israel akhirnya mengadakan kesepakatan bahwa Al-Masih adalah
seorang yang merupakan:
1.
Raja-raja terdahulu yang dianggap ”Bangkit” dari kuburnya, antara
lain : Daud Yesekhiel, Yosafat, atau
2.
Nabi yang ”dibangkitkan ”, misalnya Elia atau Elisa.
3.
(Harus) keturunan Daud dan Sulaiman.
Disamping
tiga kriteria tersebut, bangsa Israel mempunyai penghayatan bahwa kelahiran
seorang pahlawan (Juru Selamat) haruslah lahir dari seorang perawan,
sebagaimana pahlawan-pahlawan bangsa terdahulu yang juga trelahir dari
seorang perawan.
Yesus
Keturunan Daud?
Bibel selalu
mengatakan bahwa Yesus adalah anak Daud.
Nubuat
tentang keturunan Daud akan berkuasa antara lain: II Samuel 7:12-13 dan I
Tawarikh 17:11-12
”Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapatkan perhentian
bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka aku akan membangkitkan keturunanmu
yang kemudian, anak kandungmu, dan aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah
yang akan mendirikan rumah bagi nama Ku dan Aku akan mengokohkan tahta
kerajaannya untuk selama-lamanya”
Demikian
pula Kisah Para Rasul 2:30
”.....Bahwa ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri
diatas tahtanya”.
Padahal,
dengan garis keturunannya (silsilah), terbukti bahwa Yesus bukan keturunan
Daud, karena Maryam bukan keturunan Daud. Yang merupakan keturunan Daud
adalah Yusuf, yang oleh Bibel disebut tunagan Maria (Mariam), silsilah itu
juga mengandung perbedaan. Matius (1:6-16) menurut 28 orang sedangkan Lukas
(3:23-31) 43 orang. Jadi terdapat selisih 15 generasi perhatikan silsilah
Yesus pada
lampiran.
Lantas
mengapa Bibel membuat kekeliruan seperti itu? Sejarah mengatakan bahwa
bangsa Israel merasa dirinya sebagai ”bangsa pilihan” telah berabad-abad
mengalami penindasan dan penjajahan bangsa-bangsa Bobilonia, Yunani, Siria
dan Romawi. Oleh karena itu mereka selalu terkenang pada zaman keemasan
dibawah pimpinan Daud dan berharap datangnya ”Raja Israel” dari keturunan
Daud yang akan melepaskan mereka dari kesengsaraan.
Jelas bahwa
pengikatan Isa-Yusuf-Daud adalah rekayasa untuk melegitimasi bahwa Yesus
adalah keturunan Daud, Al Masih yang dinanti-nantikan sebagai juru selamat.
YESUS DAN
KONTROFERSI KELAHIRANNYA
Yesus
dalam tradisi sejarah umat Islam sebenarnya Isa Al Masih putera Maryam.
Sebutan ”Isa” (Bhs Arab) berasa dari bahasa Ibrani dari kata ”Esau”. Dalam
bahasa Latin nama itu menjadi “Yesus”. Munculnya nama Yesus terjadi pada
peristiwa pengadilan Isa Al-Masih oleh meraka yang hadir dengan menambahkan
huruh “J” pada awal dan “S” pada akhir kata “Esau” sehingga menjadi Yesus.
Nama Yesus baru populer pada abad ke 2. Populernya nama Yesus akhirnya
menenggelamkan nama Esau dikalangann Kristen. Sedangkan Al-Quran dan umat
Islam tetap mempertahankan nama Esau (Isa dalam dialeg Arab).
Sedangkan kata Masyiakh, Messiah, atau Mesyah berasal dari bahasa Arab dari
kata Masaha. Dengan tiga huruf mati yang terkandungnya yaitu M-S-H, yang
berarti mengusap. Dalam perkembangan selanjutnya orang Yunani mengubah
sebutan Messiah bagi Isa menjadi Kristos yang berarti yang disiram dengan
minyak (diurapi). Oleh orang eropa Yesus disebut Christus atau Kristus,
yaitu sang penyelamat atau sang penebus dosa.
Perdebatan Seputar “Ayah” Yesus
Keajaiban
kelahiran Yesus menjadi bahan aktual dalam diskusi. Sebagian ada yang
mengatakan bahwa Yesus adalah darah daging Yusuf tunangan Maria (Mariam).
Oleh karena itu-seperti sudah dijelaskan (kekeliruannya) di depan-Yesus
memiliki silsilah dari Yusuf, dengan nenek moyang Daud. Bibel sendiri masih
bingung terhadap status “Ayah” Yesus. Pada suatu kesempatan Yesus itu
diakui sebagai tunagan Mariam (Matius 1:18), tapi dilain kesempatan juga
diakui sebagai suami Maryam (Matius 1:19). Terhadap persoalan ini sebagia
orang Yahudi yang sangat ekstrim dengan menuduh bahwa Yesus adalah anak
haram, hasil hubungan gelap Maryam dan Yusuf.
Sebagian
lagi ada yang berpendirian bahwa Yesus dilahirkan secara murni suci, tanpa
campur tangan (unsur jantan) manusia. Oleh karena itu Yesus adalah “Anak
Tuhan”. Tetapi pihak yang berpendapat demikian juga bertentangan dengan
memahami dan menafsirkan kata “Anak Tuhan” tersebut. Disatu pihak
memahaminya secara harfiah (literal), bahwa Yesus adalah anak “Biologis”,
yakni anak yang dijadikannya memerlukan campur tangan Tuhan secara langsung
kepada Maryam melalu roh yang suci.
Pemikiran
tersebut akhirnya melahirkan konsep ketuhanan “Trinitas”: Tuhan Bapak, Tuhan
Anak dan Tuhan Roh Suci. Akan tetapi sebagian pihak memahaminya secara
kiasan (Metafora). Bahwa anak bukan dalam pengerian ”biologis” atau nasap,
melainkan kiasan saja. Pendapat seperti ini didasarkan oleh adanya
penyebutan anak yang bukan hanya kepada Yesus, sebagaimana penjelasan bibel
dibawah ini:
”Maka anak-anak Allah melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu
cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan
itu, siapa saja yang disukai mereka”
(Kejadian 6:2)
”Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu
sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia
dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka.”
(Kejadian 6:4).
”Aku mau mencaritakan tentang ketetapan Tuhan: Ia berkata kepadaku: ”AnakKu
engkau! Engkau telah kuperankan pada hari ini.”
(Mazmur 2:7).
”Dengan mengais mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka;
Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, dijalan yang rata, dimana mereka
tidak akan tersandung sebab Aku talah menjadi bapa israel. Efraim adalah
anak sulungku.”
(Jeremia 31:9).
”Anak Eros, anak Set, anak Adam, Anak Allah”
(Lukas 3:38).
”Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.”
(Roma 8:14)
”Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka itu akan disebut
anak-anak Allah”.
(Matius 5:9).
”Aku sendiri telah berfirman: ”Kamu adalah Alllah dan anak-anak yang Maha
Tinggi kamu sekalian.”
(Mazmur 82:6).
Dari paparan
ayat-ayat tersebut diatas, jelaslah bahwa istilah ”anak Allah” adalah
ungkapan khas orang Yahudi kepada umatnya, dan jumlahnya banyak bukan hanya
Yesus.
Islam
Tentang Isa dan Maryam
Islam dengan
tegas menolak semua tuduhan yang tidak benar mengenai Maryam dan putranya.
Islam bahkan menjunjung tinggi keduanya. Marilah kita telaah penjelasan
Allah SWT dalam Al Quran:
” Dan
ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan
diri dari keluarganya kesuatu tempat disebelah timur, maka ia mengadakan
tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus ruh Kami (jibril)
kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang
sempurna. Maryam berkata: Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada
Tuhan Yang maha Pemurah, jika kamu seorang bertaqwa. Ia (Jibril) berkata:
Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu
seorang anak laki-laki yang suci. Maryam berkata: bagaimana akan ada bagiku
seorang anak laki-lak, sedang tidak pernah seorangpun manusia menyentuhku
dan aku bukan (pula) seorang pezina. Jibril berkata: Demikianlah, Tuhanmu
berfirman: Hal itu mudah bagiKu; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu
tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu
perkara yang sudah diputuskan. Maka Maryam mengandungnya, lalu ia
menyisihkan diri dengan kandungannya itu ketempat yang jauh.”
(Maryam\
19:16-22)
”Dan
(ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah
telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita
di dunia( yang semasa dengan kamu”.
(Ali
Imron\3:42).
”Maka
Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya
berkata: Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang
mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang
yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina. Maka Maryam
menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: Bagaimana kami berbicara dengan
anak kecil yang masih dalam ayunan? Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba
Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku Nabi, dan Dia
menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia
memerintahkan kepadaku 9mendirikan) shalat dan )menunaikan) Zakat selama aku
hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan aku seorang yang
sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada
hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan
hidup kembali. Itulah Isa putra maryam, yang mengatakan perkataan yang
benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi
Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu,
maka Dia hanya berkata kepadanya; Jadilah, maka jadilah ia. Sesungguhnya
Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini
adalah jalan yang lurus.”
(Maryam\19:27-36).
SEJARAH
NATAL
Kata
Natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Secara istilah Natal
berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingatri hari
kelahiran Isa Al Masih- yang mereka sebut Tuhan Yesus.
Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325-354 oleh Paus Liberius, yang
ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa
Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober,
28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut
akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).
Kelahiran
Yesus Menurut Bibel
Untuk
menyibak tabir Natal pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai Hari
Kelahiran Yesus, marilah kita simak apa yang diberitakan oleh Bibel tentang
kelahiran Yesus sebagaimana dalam Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1,10,11 (Markus
dan Yohanes tidak menuliskan kisah kelahiran Yesus).
Lukas 2:1-8:
”Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh
mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali
negeri di Siria.
Maka
pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galelilea ke Yudea, ke kota
Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan
Daud- supaya didaftarkan bersama dengan Maria, tunangannya yang sedang
mengandung.
Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin dan ia
melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya
dengan lapin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat
bagi mereka dirumah penginapan.
Didaerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjanga kawanan
ternak mereka pada waktu malam.”
Jadi, menuru
Bibel, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu yang
sedang melaksanakan sensus penduduk (7M=579 Romawi). Yusuf, tunangan Maryam
ibu Yesus berasaldari Betlehem, maka mereka bertiga ke sana, dan lahirlah
Yesus di Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampan
dan membaringkannya dalam palungan (tempat makan sapi, domba yang terbuat
dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang
menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.
Menurut
Matius 2:1, 10, 11
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus,
datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketika mereka melihat
bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masukalah mereka kedalam
rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibunya.
Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja
Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintah tahun 37 SM- 4 M (749
Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang
Majusi dari Timur.
Cukup jelas
pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam
menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus
tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengn
bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang
dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya
yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di
padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari
sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedang suhu
udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga
salju merupakan hal yang tidak mustahil.
Bagi yang
memiliki wawasan luas, hati terbuka dan lapang dalam mencari kebenaran,
kitab suci Al-Quran telah memberikan jawaban tentang kelahiran Yesus (Isa
alaihssalam).
”Maka
rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (Maryam) bersandar pada pangkal
pohon kurma, ia berkata: ”Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan
aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril
menyerunya dari tempat yang rendah. ”Janganlah kamu bersedih hati,
sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu (untuk minum).
Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan
menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”
(Surat
Maryam\19: 23-25)
Jadi menurut
Al Quran Yesus dilahirkan pada musim panas disaat pohon-pohon kurma berbuah
dengan lebatnya. Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr.
Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible – seperti dikutip buku
Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal 23): Yesus lahir dalam
bulan Elul (bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan Agustus-September.
Sementara
itu Uskup Barns dalam Rise of Christianity – seperti juga dikutip
oleh Soleh A. Nahdi berpendapat sebagai berikut:
”Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada
buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tentang hari lahir itu dimana
gembala-gembala waktu malam menjaga di padang di dekat Betlehem, maka hari
lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pegunungan
Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil.
Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir tersebut diterima
penetapannya kira-kira tahun 300 Masehi”
Pada
Tahun Berapa Yesus Lahir?
Umat Kristen
beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun 1, karena penanggalan Masehi
yang dirancang oleh Dionysius justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun
kelahiran Yesus. Namun Injil Lukas 2:1 (telah dikutip sebelumnya) menyatakan
Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus jadi antara tahun 27
Sebelum Maseh-14 Sesudah Masehi. Sedangkan Matius: 2:1 (Juga telah dikutip)
menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodes Agung: tahun 37
Sebelum Masehi-4 Sesudah Masehi.
Ternyata
antara pemahaman yang beredar di kalangan umat Kristen tentang kelahiran
Yesus dengan berita yang disampaikan oleh Injil, Lukas maupun Matius,
tidaklah menunjukkan suatu kepastian, sehingga ilmuwan-ilmuwan mereka ada
yang menyatakan Yesus lahir tahun 8 Sebelum Masehi, tahun 6 Sebelum Masehi,
tahun 4 sesudah Masehi. Antara lain di kutip dari buku tulisan Rev. Dr.
Charles Francis Petter, MA. . B.D., S.T.M. yang berjudul, The Lost Years
of Jesus Revealed hal 119 sebagai berikut:
Pada
abad ke-19 setelah terbukti dan akhirnya diakui bahwa Herodes telah mati 4
tahun sebelum masehi dan setelah ditetapkan, bahwa menurut cerita Matius
(2:16) raja Herodes memerintahkan pembunuhan kanak-kanak umur/dibawah umur
dua tahun untuk membinasakan Yesus harus digeser kebelakang, paling sedikit
4 tahun sebelum masehi. Masa kini para sarjana lebih condong menggeserkan
tanggal lahirnya Yesus itu 5 sampai 6 tahun kebelakang tahun Masehi.
Kesulitan menentukan tanggal kelahiran Yesus, kehidupannya, dan kematiannya
terpaksa ditimbulkan kembali karena adanya keterangan-keterangan yang banyak
terdapat dalam gulungan-gulungan Essene (yang terdapat di gua Qamran) malah
soal-soal yang berhubungan dengan ketuhanan juga harus dibangkitkan kembali.
Jadi sampai
hari ini pun tidak ada kejelasan tahun berapa Yesus dilahirkan.
Asal Usul
Perayaan Natal 25 Desember
Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan
Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya
untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.
Perayaan
Natal baru masuk dalam ajaran Kristen katolik pada abad ke-4 M. Dan
peringatan inipun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.
Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai
oleh imperium Romawi yang paganis politheisme.
Ketika
Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Katolik, mereka tidak
mampu meninggalkan adat/budaya pangannya, apalagi terhadap pesta rakyat
untuk memperingati hari Sunday (sun=matahari: day=hari) yaitu kelahiran Dewa
Matahari tanggal 25 Desember.
Maka supaya
agama Katolik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah
sinkretisme (perpaduan agama-budaya/ penyembahan berhala), dengan cara
menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran
Son of God (Anak Tuhan=Yesus).
Maka pada
konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember
sebagai hari kelahiran Yesus. Juga diputuskan, Pertama, hari minggu
(Sunday=hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan
jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang
bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung
Yesus untuk menggantikan patung Dewa Matahari.
Sesudah
Kaisar Kontantin memeluk agama Katolik pada abad ke-4 masehi, maka rakyat
pun beramai-ramai ikut memeluk agama Katolik. Inilah prestasi gemilang hasil
proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama panganisme
politheisme nenek moyang.
Demikian
asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di
seluruh dunia sampai sekarang.
Demikian
kepercayaan panganis politheisme mendapat ajaran tentang Dewa Matahari yang
diperingati tanggal 25 Desember.
Mari kita
telususri melalui Bibel maupun sejarah kepercayaan panganis yang dianut oleh
bangsa Babilonia kuno didalam kekuasaan raja Nimrod (Namrud).
H.W. Amstrong dalam
bukunya The Plain Truth About Christmas, Worlwide Chrch of God,
California USA, 1994, menjelaskan:
Namrud cucu Ham,
anak nabi Nuh adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia kuno.
Nama Nimrod dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “Marad” yang
artinya: “Dia membangkang atau Murtad antara lain dengan keberaniaannya
mengawinkan ibu kandungnya sendiri bernama “Semiramis”.
Namun usia
Namrud tidak sepannjang ibu sekaligus istrinya. Maka setelah Namrud mati,
Semiramis menyebarkan ajaran: bahwa roh Namrud tetap hidup selamanya,
walaupun jasadnya telah mati. Maka dibuatlah olehnya perumpamaan pohon
“Evergreen” yang tumbuh dari sebatang kayu mati.
Maka untuk
memperingati kelahirannya dinyatakan bahwa Namrud selalu hadir di pohon
Evergreen dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting
pohon itu. Sedangkan kelahiran Namrud dinyatakan tanggal 25 Desember. Inilah
asal usul pohon Natal.
Lebih lanjut
Semiramis dianggap sebagai “Ratu Langit” oleh rakyat Babilonia, kemudian
Namrud dipuja sebagai “anak suci dari surga”.
Putaran jaman
menyatakan bahwa penyembahan berhala versi Babilonia ini berubah menjadi
“Mesiah palsu”, berupa dewa “Ba-al” anak dewa matahari dengan objek
penyembahan ‘Ibu dan Anak (Semiramis dan Namrud) yang lahir kembali. Ajaran
tersebut menjalar ke negara lain: Di mesir berupa “Isis dan Osiris”, di Asia
bernama “Cybele dan Deoius”. Di Roma disebut Fortuna dan Yupiter. Bahkan di
Yunani, “Kwan Im” di Cina, Jepang dan Tibet, India, Persia, Afrika, Eropa
dan Meksiko juga ditemukan adat pemujaan terhadap dewa “Madonna” dan
lain-lain.
Dewa-dewa berikut
dimitoskan lahir pada tanggal 25 Desember, dilahirkan oleh gadis perawan
(tanpa bapak), mengalami kematian (salib) dan dipercaya sebagai Juru Selamat
(Penebus Dosa):
1.
Dewa
Mithras (Mitra) di Iran, yang juga dinyatakan dilahirkan dalam sebuah gua
dan mempunyai 12 orang murid. Dia juga disebut sebagai Sang Penyelamat,
karena ia pun mengalami kematian dan dikuburkan, tapi bangkit kembali.
Kepercayaan ini menjalar hingga Eropa. Konstantin termasuk salah seorang
pengagum sekalugus penganut kepercayaan ini.
2.
Apollo,
yang terkenal memiliki 12 jasa dan menguasai 12 bintang/planet.
3.
Hercules
yang terkenal sebagai pahlawan perang tak tertandingi.
4.
Ba-al
yang disembah orang-orang Israel adalah dewa pendududk asli tanah Kana’an
yang terkenal juga sebagai dewa kesuburan.
5.
Dewa Ra,
sembahan orang-orang Mesir Kuno; kepercayaan ini menyebar hingga ke Romawi
dan diperingati secara besar-besaran dan dijadikan sebagai pesta rakyat.
Demikian
juga Serapsis, Attis, Issis, Horus, Adonis, Bacchus, Krisna, Osiris, Syamas,
Kybele dan lain-lain. Selain itu ada lagi tokoh/pahlawan pada suatu bangsa
yang oleh mereka diyakini dilahirkan oleh perawan, antara lain Zorates
(bangsa Persia) dan Fo Hi (bangsa Cina). Demikian pula pahlawan-pahlawan
Helenisme: Agis, Celomenes, Eunus, Soluius, Aristonicus, Tibarius, Grocecus,
Yupiter, Minersa, Easter.
Jadi
konsep bahwa Tuhan itu dilahirkan seorang perawan pada tanggal 25 Desember
disalib/dibunuh kemudian dibangkitan, sudah ada sejak zaman purba.
Konsep/dogma agama bahwa Yesus adalah anak Tuhan dan bahwa Tuhan mempunyai
tiga pribadi dengan sangat mudahnya diterima oleh kalangan masyarakat Romawi
karana merekalah telah memiliki konsep itu sebelumnya. Mereka tinggal
mengubah nama-nama dewa menjadi Yesus. Maka dengan jujur Paulus mengakui
bahwa dogma-dogma tersebut hanyalah KEBOHONGAN yang sengaja dibuatnya. Kata
Paulus kepada Jemaat Roma:
Tetapi jika kebesaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaannya,
mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai seorang berdosa?
(Roma 3:7)
Mengenai
kemungkinan terjadinya pendustaan itu, Yesus telah mensinyalir lewat
pesannya:
Jawab Yesus kepada mereka: Waspadalah supaya jangan ada orang yang
menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai namaku dan
berkata Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.
(Matius 24:4-5).
Pandangan
Bibel Tentang Upacara Natal.
Untuk
mengetahui pandangan Bibel tentang perayaan Natal yang diwarisi oleh tradisi
paganisme, baiklah kita telaah Yeremia 10:2-4:
”Beginilah firman Tuhan: ”Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah
bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun
bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang diseganii bangsa-bangsa adalah
kesia-siaan. Bukanlah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang dari hutan,
yang dikerjakan dengan pahat oleh tukang kayu? Orang memperindahnya dengan
emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu supaya jangan
goyang”.
Demikianlah
pandangan Bibel tentang upacara Natal yaitu melarang orang Kristen mengikuti
kebiasaaan bangsa-bangsa penyembah berhala.
Selanjutnya
mari kita simak penjelasan Yeremia 10:5
”Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun.
Tidak
dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah.
Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan
berbuat baik pun dia tidak dapt.”
Sumber-sumber Kristen yang Menolak Natal
1.
Catolic
Encyclopedia, ediai 1911 tentang Christmas:
” Natal
bukanlah upacara gereja yang pertama... melainkan ia diyakini berasal dari
Mesir, perayaan yang diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh
pada bulan Januari., kemudian dijadikan kelahiran Yesus.
Dalam buku yang sama,
tentang ” Natal Day” dinyatakan sebagai berikut:
”Di dalam kitab
suci tidak ada seorang pun yang mengadakan upacara atau penyelenggaraan
perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir
saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari
kelahirannya ke dunia ini.”
2.
Encyclopedia Britanica, edisi 1946 menyatakan:
”Natal bukanlah upacara gereja abad pertama, Yesus Kristus atau para
muridnya tidak pernah menyelenggarakan dan Bibel juga tidak pernah
menyelenggarakannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir
penyembah berhala.”
3.
Encyclopedia Americana, edisi tahun 1944 menyatakan:
”Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan
oleh umat Kristen. Pada umumnya umat kristen hanya merayakan hari kematian
orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran
tersebut.......”.
(Perjamuan Suci, yang termaktub dalam kitab Perjanjian Baru hanyalah untuk
mengenang kematian Yesus Kristus)..... Perayaan Natal yang dianggap sebagai
hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad ke-4 M. Pada abad ke-5 M.
Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari
kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan
hari ”Kelahiran Dewa Matahari”. Sebab tidak seorangpun mengetahui hari
kelahiran Yesus.”
PANDANGAN
TIGA AGAMA TENTANG YESUS
Yahudi
1.
Yesus lahir dari perbuatan zina; mengaku menjadi Mesias yang
dinantikan Bani Israil.
2.
Yesus
layak mati disalib sebagai hukuman terhadap pengakuannya sebagai Mesias.
Kristen
1.
Yesus adalah Tuhan Putra, pribadi kedua Tuhan.
2.
Yesus mengalami kematian di kayu salib untuk menebus dosa warisan
umat manusia.
Islam
1.
Yesus lahir karena ketentuan Allah ( kalimat Allah ), dilahirkan
ibindanya Siti Maryam binti Imran dalam keadaan suci ( fitrah ).
2.
Yesus adalah seorang utusan Allah, bukan Tuhan sebagaimana penjelasan
surat Al maidah/ 5:73.
”
Sesunguhnya kafirlah orang –orang yang mengatakan bahwasannya Allahsalah
satu dari tiga, padahal sekali-kali tiddak ada Tuhan ( yang berhak disembah
) selain Tuhan Yang Maha Esa . Jika mereka Tidak berhenti dari apa yamg
mereka katakan itu, pasti orang – orang kafir diantara mereka akan tertimpa
siksaan yang pedih.”
3.
Yesus diselamatkan Allah dari kematian di kayu salib.